Categories
Berita

Sardono : Kamera , Papua , Dan Lelehan Cat Bag4

Para penari Papua itu kemudian menyajikan adegan kebersamaan. Di tiap sudut, tubuh mereka tumpuk-menumpuk di punggung melilitkan tali satu sama lain. Di tengah keriuhan, seorang lelaki sepuh berbadan tegap masuk dan merespons penyanyi Nyak Ina Raseuki, yang lebih dulu bereksplorasi suara. Lelaki itu adalah Chriestianus Serra Koirewoa, keturunan raja dari Kampung Serui, Waroten, Papua. Si lelaki menyanyikan sebuah senandung suci: ”Sampari sya syairoro. Sampari syana ande ndughamae. Sampari sya syairoro.” Arti senandung itu adalah di dalam perahu kecil ini aku mengukur keluasan laut yang tak terbatas, di dalam perahu kecil ini aku melintasi waktu sejak cahaya matahari benderang hingga menghitam dan mati.

”Nyanyian itu di Serui menggunakan bahasa yang disebut bahasa kulit kayu. Bahasa tua nenek moyang. Kami sendiri, anak-anak muda, tak lagi mengerti bahasa itu. Hanya feeling-nya yang masih terasa,” kata Serraimere Boogie Y. Koirewoa, salah seorang penari. Kemudian di akhir terdengar tembakan pistol. Samar-samar terdengar suara berita dibacakan di televisi. Mungkin kapal itu datang tak untuk menolong, tapi justru membunuh mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *