Categories
Parenting

Waspadai Game untuk anak

Hati-hati, game bermuatan kekerasan dan pornografi dapat merusak otak anak! Anak-anak di bawah usia 8 ta hun belajar dari melihat untuk kemudian menirunya. Apa pun yang ia lihat, meski hanyasekali, sangat mudah baginya untuk meniru. Apalagi jika melihatnya berulang kali, peniruannya pun semakin sering dan kuat.

Baca juga : tempat kursus ielts di jakarta

Pada kasus Zumi, misalnya, meski hanya melihat kakaknya bermain game—apalagi jika ia sendiri yang memainkannya—dan terjadi berulang kali, maka sangat wajar bila kemudian Zumi mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Ia mendengar kalimat, “Kill him!”, misalnya, yang diterjemahkan si kakak dengan, “Bunuh dia!”, maka ia pun menirukannya. Lebih memperihatinkan lagi, pada game-game berbau kekerasan, umumnya juga bermuatan pornograf. Bentuknya bisa berupa gambar yang memperlihatkan bagian-bagian intim perempuan atau lelaki, adegan percumbuan, bahkan mengajak pemainnya untuk mencumbu lawan jenis. Misalnya: GTA, Street Racing Sindicate, Sim City3, dan banyak lagi.

Meski game-game ini cenderung dimainkan oleh anak usia 6 tahun ke atas, tetapi jika si balita berada di samping kakaknya yang sedang memainkan games tersebut, ia pun akan terkena imbasnya. Kelak, saat ia sudah bisa memainkannya, ia akan ikut bergabung. SULIT DIDETEKSI Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Iowa State University, Amerika Serikat, menunjukkan, anak yang sering bermain game mengandung kekerasan dan pornograf lebih mudah melakukan kekerasan dan memiliki intoleransi terhadap orang lain. Pasalnya, anak, khususnya di bawah 10 tahun, belum siap terpapar unsur-unsur tersebut, sehingga paparan tersebut membuat anak terganggu secara neurologis.

Di sisi lain, anak selalu ingin tahu, mencoba, bereksplorasi, sementara dia belum memahami betul mengenai tindakan negatif atau positif. Jika perilaku ini dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik akan membuat anak tidak memahami bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Hal senada juga ditemukan dalam penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Radiological Society of North America (RSNA) di Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Dalam presentasi tersebut terungkap bahwa kekerasan yang terdapat dalam game berpengaruh tak hanya pada otak anak, tetapi juga remaja, terutama di bagian yang berhubungan dengan fungsi kognitif dan pengendalian emosi. Pada pemindaian otak dengan menggunakan FMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) terlihat ada perubahan saat bermain game dan seminggu setelahnya yang diduga memengaruhi fungsi kognitif serta pengendalian emosi.

Sumber : https://westwoodprep.com/id/

Leave a Reply

Your email address will not be published.