Categories
Berita

Pengembaraan Sardono Ke Papua Bag4

Mengamati latihan berbulan-bulan di Kemlayan dan lantai dua restoran Kusuma Sari—restoran milik keluarga besar Sardono yang menjual steak lidah murah tapi nikmat di Surakarta—Sardono memang tak menyusun dramaturgi sedari awal. Bagian awal, tengah, dan akhir tidak ia desain. Anak-anak Papua itu dibiarkan berjam-jam bergetar di atas wajan. Lalu, pada momen tertentu, ia berdiskusi. Cara kerja Sardono sangat intuitif, berdasarkan kepekaan melihat proses. ”Saya tidak memberi instruksi, hanya memberi stimulan untuk kemudian mereka berinteraksi sendiri,” ujarnya. Cara demikian juga dilakukannya di Teges pada 1970-an. Sardono tidak mendesain suatu tarian, tapi merangsang penduduk Teges menari menuruti respons batin sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *