Update Gambar Keren via WAZE

Update Gambar Keren via WAZE – C rowdsourcing maps, demikian Waze dikenalkan. Dise but crowdsourcing, karena peta dan data yang ada di Waze memang hasil ap pengguna berperan menambah akurasi data dan peta di Waze. Sebagai pengguna biasa, hanya dengan bancakan para penggunanya. Seti– menyalakan Waze sambil berkendara saja, kita turut berkontribusi memberikan data kecepatan lalu lintas di jalan-jalan yang kita lalui. Sebab, sistem Waze bisa mendeteksi berapa kecepatan kendaraan kita. Kecepatan itu kemudian dilaporkan ke peta Waze, sehingga bisa menjadi informasi lalu lintas bagi pengguna lain. Selain itu, datanya real time. Berbeda dengan data lalu lintas Google Maps yang tidak segera. Kontribusi lain yang bisa kita lakukan adalah melaporkan situasi perjalanan, misalnya memberikan peringatan apakah ada jalan berlubang, kendaraan berhenti di tepi jalan, serta keberadaan polisi. Bahkan kita bisa berbincang dengan pengguna lain, contohnya menanyakan penyebab kemacetan kepada pengguna Waze lain di depan Anda yang membuat mobil Anda terkena macet parah. Editor Nah, jika Anda ingin berkontribusi lebih jauh, ikutlah bergabung menjadi editor peta Waze seperti yang dilakukan Christian Iskandar. untuk menjadi editor peta Waze, Anda perlu mendaftar terlebih dulu di www.waze.com/editor. Setelah terdaftar, maka Anda bisa masuk ke laman khusus editor.

Disini Anda bisa mengubah nama jalan, memperbaiki rute yang salah, memperbaiki bentuk jalan, atau membuat jalan yang belum tampak pada peta Waze. Christian bahkan sempat menjadi Waze Global Champ pada 2013. Ini adalah gelar dunia yang diberikan kepada editor Waze yang dinilai memberi sumbangsih besar bagi peta Waze secara global. Meski demikian, Christian mengaku tidak mengetahui parameter yang digunakan untuk pemilihan Global Champ itu. Menurutnya, ia bukanlah pemilik skor editor tertinggi di banding editor dunia lainnya saat itu. Selain Global Champ, ada juga yang disebut sebagai Local Champ. Ini adalah para editor level tinggi di setiap negara. Editor yang bisa jadi Local Champ ini dipilih langsung oleh pihak Waze. Ketika ada di sebuah daerah baru dan belum ada maps editor di sana, maka Waze hanya akan memberikan peta dasar. Masalahnya, peta dasar ini biasanya punya data yang tidak lengkap. Semisal jalanan yang terputus, adanya jalan baru yang belum terdeteksi, atau ada arahan belokan yang salah. Untuk memperbaiki ini, maka perlu sentuhan para editor. Christian mengaku, ia dan rekan-rekan sesama editor tidak mendapat insentif untuk memperbaiki data peta Waze. “Ini sekadar hobi,” tuturnya. Meski sekadar hobi, namun komunitas editor Waze menurut Christian cukup aktif dan dikenal secara global. “Kita jadi komunitas pertama yang menerbitkan buku tentang Waze. Kita juga yang pertama membuat Waze MapRaid,” ujarnya bangga. Mapraid adalah program dimana para editor Waze Indonesia berkumpul untuk mengedit bersama peta suatu kota. “Misal waktu itu kita mau mengedit peta kota Makassar.

Tidak semua editor punya hak mengedit peta di kota itu, maka kita minta HQ (kantor pusat,-red) untuk memberi hak edit para editor yang belum dibolehkan. Lantas kita mengedit bareng-bareng untuk memperbaiki akurasi peta di kota itu,” papar Christian. Dijelaskan pula, bahwa para editor ini cuma punya hak edit pada daerah-daerah yang pernah dikunjungi saja. Maka perlu persetujuan Waze pusat agar akun tertentu mendapat hak edit di suatu daerah. Kegiatan ini ternyata menarik perhatian komunitas Waze lainnya, sehingga mereka turut membuat kegiatan serupa di negaranya. “Terutama di AS sih,” tambahnya lagi. Menurut Christian, kewenangan para editor dibatasi sesuai level mereka. Ada enam level yang mesti dilalui. Peningkatan level dilakukan dengan mengumpulkan nilai tertentu. Mengedit Peta Untuk mengedit peta, para editor mesti punya pengetahuan yang benar mengenai daerah yang sedang diedit. Bisa berdasarkan pengalaman, data rute pengguna, atau melakukan konfirmasi dengan peta satelit. Rute pengguna bisa jadi acuan karena sistem Waze akan mencatat jejak kita ketika menggunakan Waze. Selain itu, para editor juga mesti mengecek jika sistem memberikan notifikasi adanya kejanggalan dari peta yang sudah ditetapkan Waze dengan kebiasaan mengemudi pengguna. Sistem Waze akan mendeteksi beberapa pengguna melewati rute tertentu. Sementara Waze tidak punya data bahwa di rute itu ada jalan. Maka ada notifikasi untuk dikonfirmasi oleh editor. Editor bisa mengecek rute pengguna itu dengan mengecek peta satelit. Tapi peta satelit pun tak selalu diperbarui, maka jika banyak jejak rute pengguna hal itu juga bisa dijadikan patokan untuk menggambar jalan di rute tersebut.

Kemungkinan lain yang perlu diperbaiki editor adalah persimpangan dengan jembatan, dan jalan yang terputus di peta Waze. Padahal kenyataannya jalan itu terhubung, juga kesalahan rute. Semisal peta Waze mendefinisikan suatu jalan sebagai jalan dua arah padahal kini jalan itu jadi searah, maka tugas map editor untuk memperbaruinya. Ada juga larangan rute tertentu yang seringkali berubah. Ini pun perlu sentuhan editor untuk memperbaikinya. Sehingga Waze bisa memberikan arahan lebih baik, ketika ada pengguna yang menggunakan Waze umtuk mengarahkan ke tempat tertentu. Saat ini, menurut Christian ada sekitar 50 Waze Map Editor yang aktif di Tanah Air. Mereka tersebar di berbagai pulau di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Christian mengaku, jumlah tersebut masih sangat sedikit, masih sangat sulit untuk memperlengkap peta di Indonesia. Oleh karena itu, ia berharap, makin banyak orang yang bergabung ke komunitas editor Waze Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *